Dari Palu ke Kampung Halaman: Cara Siswa Utama Widyalaya Wira Dharma Palu Memaknai Libur Nyepi


Dari Palu ke Kampung Halaman: Cara Siswa Utama Widyalaya Wira Dharma Palu Memaknai Libur Nyepi

Palu, 16 Maret 2026 – Menjelang perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 yang berdekatan dengan libur Hari Raya Idul Fitri, siswa-siswi SMA Utama Widyalaya Wira Dharma Palu yang berasal dari berbagai daerah kembali ke kampung halaman masing-masing. Momentum libur tersebut dimanfaatkan para siswa tidak hanya untuk berkumpul bersama keluarga, tetapi juga untuk mengikuti rangkaian kegiatan keagamaan dalam menyambut Hari Raya Nyepi.

Sebagai sekolah dengan sistem pendidikan berasrama (boarding school), para siswa selama ini menjalani pembinaan akademik, spiritual, dan kedisiplinan di lingkungan sekolah. Ketika masa libur tiba, para siswa kembali ke desa masing-masing dan terlibat langsung dalam kehidupan masyarakat, khususnya dalam kegiatan keagamaan Hindu yang menjadi bagian penting dari tradisi dan identitas budaya.

Dok 1. Melasti di Bendungan Toso/Kuala Dingin di Desa Panca Makmur Morowali Utara

Salah satu kegiatan yang diikuti para siswa adalah prosesi Mendak Ida Bhatara, yakni upacara penyambutan turunnya manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang disimbolkan melalui pratima atau simbol-simbol suci di pura. Prosesi ini merupakan bentuk penghormatan dan bhakti umat kepada Tuhan serta para Dewa yang diyakini memberikan perlindungan dan kesejahteraan bagi kehidupan masyarakat.

Selain itu, para siswa juga mengikuti kegiatan Nyejer, yaitu masa ketika pratima atau simbol suci Ida Bhatara ditempatkan sementara di pura untuk dihaturkan persembahyangan oleh umat. Pada masa Nyejer, masyarakat melaksanakan persembahyangan bersama sebagai wujud sraddha dan bhakti kepada Tuhan.

Dok 2. Melasti di Pantai Lemboso Desa Tongolobibi

Kegiatan penting lainnya adalah Upacara Melasti, yakni ritual penyucian diri dan alam semesta menjelang Hari Raya Nyepi. Dalam upacara ini umat Hindu biasanya menuju sumber air suci seperti laut, danau, atau sungai untuk memohon penyucian lahir dan batin serta membersihkan benda-benda sakral milik pura.

Makna spiritual dari ritual penyucian ini sejalan dengan ajaran dalam kitab suci Bhagavad Gita Bab IV Sloka 38, yang menyatakan:

“Na hi jñānena sadṛśaṁ pavitram iha vidyate”

yang berarti:
“Sesungguhnya di dunia ini tidak ada yang lebih menyucikan selain pengetahuan spiritual.”

Sloka ini mengajarkan bahwa penyucian diri bukan hanya secara lahiriah, tetapi juga melalui pemahaman spiritual dan kesadaran diri yang mendalam.

Sementara itu, dalam Manawa Dharmasastra V.109 juga disebutkan:

“Adbhir gātrāṇi śudhyanti manaḥ satyena śudhyati”

yang berarti:
“Tubuh disucikan dengan air, sedangkan pikiran disucikan dengan kebenaran.”

Ajaran ini menggambarkan bahwa penyucian diri dalam tradisi Hindu mencakup keseimbangan antara kebersihan fisik, kejernihan pikiran, dan kemurnian perilaku.

Dok 3. Nyejer atau persembahyangan malam di Pura Desa

Selain itu, dalam lontar Sang Hyang Aji Swamandala dijelaskan mengenai makna Melasti sebagai upacara untuk menghanyutkan segala kekotoran dunia:

“Melasti ngarania ngiring prewatek Dewata anganyutaken laraning jagat papa klesa, letuhing bhuwana.”

Maknanya adalah bahwa Melasti dilakukan untuk menghanyutkan penderitaan, kekotoran, dan unsur negatif yang ada dalam diri manusia maupun alam semesta.

Melalui keterlibatan dalam rangkaian upacara tersebut, para siswa tidak hanya menjalankan kewajiban keagamaan, tetapi juga memperkuat pemahaman tentang nilai-nilai spiritual yang menjadi dasar kehidupan umat Hindu. Kegiatan ini juga menjadi sarana pendidikan karakter yang mengajarkan kesederhanaan, kedisiplinan, serta penghormatan terhadap tradisi leluhur.

Pihak sekolah SMA Utama Widyalaya Wira Dharma Palu menyampaikan bahwa kegiatan siswa selama masa libur tetap diarahkan pada aktivitas yang positif dan mendidik. Dengan mengikuti rangkaian upacara Nyepi di kampung halaman masing-masing, siswa diharapkan mampu menghayati nilai Tri Hita Karana, yakni keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam.

Momentum Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 ini menjadi pengingat penting bagi generasi muda untuk terus menjaga keseimbangan hidup, memperkuat spiritualitas, serta melestarikan tradisi budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Dokumentasi: Siswa UWWD
Penulis : I Kayan Setiawan, S.Pd., Gr., MOS
Author : Wiradharma

Leave a Comment

Back to top