Dalam suasana penuh kesucian dan kebersamaan, para siswa-siswi SMA Utama Widyalaya Wira Dharma Palu turut berpartisipasi aktif dalam kegiatan ngaturang ngayah pada upacara piodalan di Pura Agung Wana Kerta Jagatnatha Palu. Kegiatan ini tidak hanya berupa pelayanan fisik seperti menata pura dan membantu persiapan upacara, tetapi juga dalam bentuk ngayah seni tabuh dan tari yang dipersembahkan dengan hati tulus sebagai wujud bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Bagi umat Hindu, ngayah merupakan salah satu bentuk yadnya, yaitu pengorbanan suci yang dilakukan dengan dasar ketulusan dan tanpa pamrih. Dalam konteks ini, seni tabuh dan tari yang dipersembahkan oleh para siswa menjadi bagian dari Dewa Yadnya, yaitu persembahan kepada Tuhan melalui keindahan dan kesucian seni.
Dalam Bhagavad Gita IX.27, Sri Krsna bersabda:
“Yat karoṣi yad aśnāsi yaj juhoṣi dadāsi yat,
yat tapasyasi kaunteya tat kuruṣva mad-arpaṇam.”“Apa pun yang engkau lakukan, apa pun yang engkau makan, apa pun yang engkau persembahkan, apa pun tapa yang engkau jalankan, lakukanlah itu sebagai persembahan kepada-Ku.”
Sloka ini menegaskan bahwa setiap tindakan, termasuk menari dan menabuh, bila dilakukan dengan niat tulus dan bhakti yang murni, menjadi persembahan suci kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Maka, ngayah seni yang dilakukan oleh para siswa bukan sekadar pertunjukan, melainkan wujud spiritualitas yang hidup dalam gerak, irama, dan rasa.
Para siswa-siswi SMA Utama Widyalaya Wira Dharma Palu menampilkan tari-tarian sakral dan tabuh gamelan yang menjadi bagian dari rangkaian piodalan. Setiap gerak tari, setiap denting gamelan, diiringi dengan rasa bhakti yang mendalam. Mereka tidak sekadar menari dan menabuh, tetapi menghayati setiap gerak dan nada sebagai bentuk komunikasi spiritual dengan Tuhan.

Salah satu siswi penari, mengungkapkan:
“Kami berlatih dengan sungguh-sungguh agar bisa menarikan tarian dengan hati yang bersih. Menari di pura terasa berbeda — ada rasa haru dan bahagia karena kami merasa dekat dengan Ida Sang Hyang Widhi.”
Demikian pula para siswa penabuh gamelan yang berlatih dengan penuh semangat. Bagi mereka, menabuh bukan hanya memainkan alat musik, tetapi menjadi bagian dari ritual suci yang menumbuhkan rasa kebersamaan dan ketulusan hati.
Kepala SMA Utama Widyalaya Wira Dharma Palu, Bapak Drs. I Made Sukarta, M.Si., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari pendidikan karakter berbasis spiritual. Melalui ngayah seni, siswa belajar nilai-nilai disiplin, kerja sama, ketulusan, serta tanggung jawab.
“Anak-anak tidak hanya belajar seni, tetapi juga belajar melatih diri dalam pengabdian. Mereka memahami bahwa seni bukan untuk mencari pujian, melainkan untuk memuliakan Tuhan. Ini adalah pelajaran hidup yang jauh lebih bermakna daripada sekadar teori di kelas,” ujarnya.
Nilai-nilai tersebut selaras dengan ajaran Tri Kaya Parisudha, yaitu berpikir, berkata, dan berbuat baik. Dalam menari dan menabuh, para siswa melatih pikiran agar tenang, kata-kata agar lembut, dan tindakan agar penuh keindahan dan makna. Semua dilakukan dengan dasar sattwika karma — perbuatan yang dilandasi kesucian dan pengabdian.
Kegiatan ngayah seni juga menjadi wujud nyata dari pelaksanaan ajaran Tri Hita Karana. Melalui seni, para siswa membangun keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan (Parahyangan), mempererat hubungan antar sesama (Pawongan) dalam semangat gotong royong dan kerja sama, serta menjaga keharmonisan dengan alam (Palemahan) karena kegiatan seni dilaksanakan dengan kesadaran akan kesucian tempat.
Lebih lanjut, kepala Sekolah SMA Utama Widyalaya Wira Dharma Palu memberikan apresiasi:
“Kami bangga pada anak-anak yang dengan penuh semangat ngayah menari dan menabuh. Mereka bukan hanya menjaga tradisi leluhur, tetapi juga menanamkan nilai spiritual dalam diri mereka. Inilah bentuk nyata pendidikan holistik — memadukan intelektual, moral, dan spiritual.”
Melalui kegiatan ini, para siswa belajar bahwa seni dalam agama Hindu tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana pengabdian dan penyucian diri. Dalam setiap tabuhan gamelan dan gerak tarian yang teratur, terdapat doa yang hidup — doa dalam bentuk rasa, gerak, dan irama.
Sebagaimana tersurat dalam Rg Veda X.191.2:
“Sam gacchadhvam sam vadadhvam sam vo manāṁsi jānatām.”
“Berjalanlah bersama, berbicaralah bersama, satukanlah pikiranmu.”

Sloka ini mencerminkan semangat kebersamaan dan keharmonisan yang tumbuh dalam ngayah. Melalui kerja sama dan kesatuan hati, para siswa menciptakan keharmonisan yang memuliakan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan menguatkan persaudaraan sesama umat.
Keterlibatan siswa-siswi SMA Utama Widyalaya Wira Dharma Palu dalam ngaturang ngayah seni tabuh dan tari pada piodalan di Pura Agung Wana Kerta Jagatnatha Palu bukan hanya menambah semarak perayaan suci, tetapi juga memperdalam makna spiritual dan pendidikan karakter.
Melalui tabuh dan tari, mereka belajar bahwa keindahan sejati lahir dari ketulusan, dan pengabdian tidak selalu dalam bentuk kata, tetapi bisa melalui gerak dan irama yang suci. Semoga semangat ngayah ini terus hidup di hati generasi muda Hindu, menjadi jalan menuju kehidupan yang harmonis, penuh bhakti, dan berlandaskan dharma.
Dokumentasi: OSIS
Penulis : Ni Wayan Fitriani
Author : I Kayan Setiawan, S.Pd., MOS
Leave a Comment